Pendidikan

Antar Anak Bersekolah Bahkan Hingga ke Luar Negeri, Tapi Jangan Latih Dijemput KBRI

Menurut pakar pendidikan Arif Rahman yang dikutip Kompas.com, ketidakmampuan kita membiayai pendidikan karena rendahnya kesadaran merencanakan pendidikan.

Soal antar dan jemput pastinya kita tidak akan lupa dengan berita belakangan ini. Soal himbauan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan mengantar anak pada hari pertama sekolah. Lalu, soal Wakil Ketua DPR Fadli Zon yang berhasil mencuri panggung media lewat aksinya, meminta tolong KBRI Indonesia di Amerika Serikat (AS) menjemput dan mendampingi anaknya selama menjalani kursus di sana.

Menyoal pembahasan antar dan jemput di atas, sebenarnya ada hal positif yang dapat dijadikan pegangan kita mendidik anak. Mari kita bedah dari berita “jemput” yang nyatanya banyak dikritisi oleh banyak orang, salah satunya sentilan seorang praktisi bisnis Rhenald Kasali. Pada kolomnya di Kompas.com, beliau menyarankan agar tidak menjadikan anak-anak kita layaknya princess.

Maksudnya, jangan asumsikan anak sebagai sosok yang tak mampu bergerak sendiri, dan seakan-akan alam tak memberi ruang bagi anak untuk belajar. Lebih lanjut beliau menulis, anak-anak yang dijemput dengan fasilitas yang dimiliki orangtua akan kehilangan banyak momen yang bisa membuat ia kelak lebih pandai dalam hidup. Intinya, apa yang disinggung oleh Rhenald Kasali lebih menitikberatkan soal pendidikan dari rumah yang “gurunya” adalah orangtua sendiri.

Seakan memperkuat pernyataan Rhenald Kasali, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan pun menyatakan pendidikan yang baik adalah hasil kolaborasi antara pendidik di rumah, dan pendidik di sekolah. Kolaborasi yang demikian, ujar Anies, bisa terjadi jika ada komunikasi dan interaksi di antara keduanya dan caranya adalah dengan mengantarkan anak di hari pertama sekolah.

Selanjutnya, kawal pendidikan anak
Jika kita sudah paham akan pentingnya mengantar anak di hari pertama sekolah dan jangan menjemput anak layaknya ratu. Selanjutnya, yang harus kita perbuat sebagai orangtua adalah mengawal pendidikannya, jika perlu hingga ke luar negeri.

Tetapi mengawal pendidikan anak ternyata bukan hal yang mudah apalagi murah. Banyak artikel finansial yang menulis jika Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, rata-rata kenaikan biaya pendidikan mencapai 10% per tahun dan artinya lebih tinggi dari inflasi.

Nah, dengan besaran biaya pendidikan yang terus naik dan pastinya tidak murah tersebut apakah kita mampu? Jika tidak, apa yang harus kita lakukan? Menurut pakar pendidikan Arif Rahman yang dikutip Kompas.com, ketidakmampuan kita membiayai pendidikan karena rendahnya kesadaran merencanakan pendidikan.

“Kesadaran berencana rendah, semua tindakan dilakukan serba spontan. Begitu mau bayar uang masuk kuliah, baru mikir mau jual perhiasan atau tanah,” jelas Arif.

Akhirnya, lanjut Arif, sudah waktunya kita sebagai orangtua melakukan perencanaan keuangan yang matang sejak dini.

“Kita harus bangkit melakukan perencanaan keuangan atau melek aksara keuangan,” ujar Arif.

*Berbagai sumber

AXA Inspirasi

ARTIKEL TERKAIT

Tertarik dengan artikel Inspirasi kami?

Ya, saya ingin dihubungi untuk artikel terbaru

axa